SELAMAT DATANG DAN TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG RICKY FIRMANSYAH
http//www.rickypasey.blogspot.com Hidup Kita Adalah Cerminan Dari Apa Yang di PIKIRKAN, UCAPKAN,& LAKUKAN

Senin, 19 November 2012

SEJARAH CIAMIS


 Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata "galuh", berasal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya", dan dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.
Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ÔNg Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.
Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut: Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?); Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan; Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).
Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh". Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031 Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).
Pada bagian carita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja berkedudukan di Kawali. Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa terjadilah perang di Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, meminta Puteri Prabu Maharaja untuk menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada menghendaki Puteri itu menjadi upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang Hyang Bunisora beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.
Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dan cacah sebanyak 960 orang. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan bersilang pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Pertentangan terjadi juga di Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan tersebut Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam sekarang).
Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga.
Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.
Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis.

Selasa, 21 Agustus 2012

Mengambil Pelajaran dari Sejarah Manusia


Jika kita memfokuskan pandangan terhadap sejarah manusia, kita akan menemukan bahwasanya dosa merupakan faktor utama kehancuran kehidupan manusia. Itulah yang diungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
“Aku bersumpah demi Allah, tidak satu pun umat yang berada dalam kenikmatan kemudian nikmat itu hilang kecuali karena dosa- dosa yang dilakukan oleh mereka, karena sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.” (Nahjul Balaghah, syarah Al- Fayd, hlm 570)
Segala peristiwa yang terjadi di berbagai kehidupan manusia mengandung pelajaran yang banyak untuk kita ambil sebagai pelajaran. Imam Ali bin Abi Thalib (sa) mengatakan:
“Orang yang berakal adalah orang yang man mengambil pelajaran dari kasus orang lain.”(Ghurar Al-Hikam: 46)
Dalam sejarah kaum Muslimin sendiri terdapat ribuan pelajaran yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Ribuan kasus yang semestinya dapat menyadarkan kita bahwa dosa-dosa telah membinasakan dan menghancurkan kehidupan manusia, menjatuhkan mereka dari derajat yang mulia ke dalam lembah kehinaan dan kehancuran.
Para ahli sejarah mencatat bahwa Pemerintahan Islam telah mencapai masa keemasannya di Andalusia. Masa kejayaannya sangat memilukan hati setiap Muslim yang cinta terhadap agamanya. Wilayah yang sangat strategis di dunia dahulu semestinya memancarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru benua Eropa, kalau sekiranya para generasi muda Islam di sana tidak tenggelam dalam kehidupan hura-hura, bersenang-senang dengan perempuan dan minuman keras, yang memang sengaja diumpankan oleh para musuh Islam untuk menghancurkan mereka dengan cara seperti itu.
Sejarah Eropa modern juga penuh dengan pelajaran tersebut. Para peneliti sangat yakin bahwa jatuhnya Prancis pada 1940 M adalah disebabkan oleh minuman keras. Sensus yang dilakukan oleh Barat menunjukkan bahwa kejahatan dan berbagai tragedi di sana yang bersumber dari dosa-dosa sangat membuat bulu roma kita berdiri. Sensus tersebut menyebutkan bahwa manusia, yang katanya beradab, berubah menjadi binatang yang merusak, yang dilengkapi dengan alat-alat tehnologi yang canggih untuk mendukung operasi kejahatan mereka.
Negeri-negeri Timur yang Islam juga dilanda bencana seperti yang melanda Barat, meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang ada di Barat. Perzinaan, perjudian, mabuk-mabukan, narkotika dengan berbagai macamnya sangat laku di dunia kita, dunia Islam. Hal- hal tersebut sangat besar perannya dalam melahirkan berbagai tragedi yang pada awalnya berbentuk pembunuhan, pencurian, dan perusakan kehidupan rumah tangga. Lalu menjalar pada hilangnya kepribadian Islam dalam individu Muslim dan umat Islam. Pada gilirannya, umat Islam menjadi komoditas dagang para pemain politik di panggung dunia.
Tragedi menimpa dunia Islam, paling tidak dalam dunia politik dan ekonomi. Dua dunia itulah yang menempatkan kaum Muslimin selalu berada di genggaman orang-orang kafir di dunia ini.
Sesungguhnya perangkap yang dipasang oleh musuh-musuh Islam terhadap generasi muda Islam di Andalusia dahulu, sekarang ini dipasang pula di Palestina. Perangkap itu saat ini pun telah membuat tragedi yang amat memilukan kaum Muslimin. Tragedi hilangnya dan jatuhnya Palestina ke tangan musuh-musuh Islam secara turun-temurun.
Perangkap itu setelah sekian lama dipasang, sekarang ini telah menangkap sasarannya. Yaitu melalui pemerintahan dan LSM-LSM di berbagai dunia Islam dengan berbagai cara memasarkan produk hak azazi, demokrasi, emansipasi.
Mengapa produk ini sangat laku di dunia Islam? Karena musuh-musuh Islam menggunakan tehnik pemasaran yang canggih dari satu sisi, dan dari sisi yang lain ummat Islam sangat membutuhkan dana dan dunia. Sehingga tidak sedikit pemerintahan dan LSM di dunia Islam menjadi agen-agen pemasaran produk ini. Kemudian agen-agen ini mengkemas produk ini dengan kemasan Islam yang sangat rapi dan menarik, sehingga produk ini sangat laku. Yang akhirnya ummat Islam tidak bisa lagi membedakan mana produk Islam yang sejati dan mana yang palsu.
Dengan gencarnya pemasaran produk ini, maka ia laku sampai ke pelosok-pelosok negeri. Sehingga produk ini, saat ini telah mengubah pola kehidupan umat Islam, khususnya kalangan muda. Yang lebih memilukan hati, di belakang produk ini terdapat orang-orang yang tenggelam dalam kezaliman, kehinaan, dan mempermainkan kemuliaan harga diri umat Islam dan kejayaannya. Sehingga saat ini produsen produk ini mengendalikan kehidupan sosial dan ekonomi umat Islam, dan kita berada dalam genggaman mereka.

Kamis, 15 Maret 2012

JAS MERAH


Jas Merah Bung Karno
“Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah”
Ricky Firmansyah
Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis 
Jurusan FKIP Sejarah

          Judul yang sudah tidak asing lagi, tetapi sangat berarti bagi kehidupan bersosialisasi..Sudah sangat jelas bukan berkenaan dengan sebuah jas yang berwarna merah dan tersimpan dengan rapi di lemari.
          Kata ini merupakan sebuah judul pidato Bung Karno ketika dirinya merasa "ditikam" secara politis dari belakang. Kemudian dengan sangat lantang, sang proklamator itupun mengatakan, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah !"
          Sejak saat itu, pidato Bung Karno tersebut yang dibacakan pada perayaan HUT RI tahun 1966 mulai terkenal dengan sebutan "Jas Merah". Karena beliau memberi judul pidatonya seperti itu. Dua kata pendek yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia. Terutama pendangkalan atas arti persahabatan. Oleh karenanya kata Jas Merah ini sering ditujukan kepada orang yang suka melupakan sejarah hidupnya, serta orang-orang yang pernah berjasa kepadanya (sahabat). Dalam banyak problema yang kita temui, sering kita temukan tragedi demi kepentingan sesaat, seseorang rela mengkhianati orang terdekatnya atau biasa disebut dengan sahabat. Dia lupa akan sejarahnya saat mereka bersama-sama berjuang. Dia lupa bahwa sahabatnya-lah yang sedikit-banyak telah mendidik dan membimbingnya dengan banyak mengorbankan/mendedikasikan waktu, pengalaman, dan pikiran untuknya. Ibarat kacang lupa akan kulitnya. Seolah-olah dia tak sadar bahwa seorang sahabat itu lebih berarti dari siapapun. Tak peduli apakah ia lebih tua atau lebih muda dari kita. Siapapun berhak bersahabat dan berhak mendapat perlakuan sebagai sahabat.
          Dalam hal ini bukan berarti penulis bermaksud menyinggung perasaan seseorang atau banyak orang. Tetapi fakta tersebut sangat sering terjadi di lingkungan kita. Dimanapun lingkungan kehidupan, pasti seringkali terjadi hal-hal yang demikian, meski kita tak sadari hal itu. Hal demikian juga ditemukan dilingkungan kerja, pemerintahan, swasta, dan lingkungan kehidupan lainnya.
          Oleh karenanya dalam kehidupan bersosial, kata Jas Merah ini sangatlah berarti dan bermanfaat. Jika ada seorang sahabat yang melupakan sahabatnya yang telah mengangkat ia dari bawah, hingga kini menjulang tinggi diatas, tetapi ia lupa saat-saat ia bersama dengan sahabatnya. Dan sahabatnya rela berkorban apapun d=untuk seorang sahabatnya.
          Intinya “JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH”, begitulah kata Bapak Proklamator kita, IR. Soekarno.

Senin, 16 Januari 2012

Obyek Wisata Ciamis


KARANGKAMULYAN : Napak Tilas Kerajaan Galuh

Oleh: Ricky Firmansyah
Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis, Jurusan FKIP Sejarah.

          Karang Kamulyan adalah salah satu cagar budaya yang ada di Kabupaten Ciamis. Cagar budaya yang luasnya hamper 25 Ha ini merupakan peninggalan Kerajaan Galuh. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis.Berbicara mengenai Karang Kamulyan, fikiran kita akan langsung tertuju pada sebuah situs peninggalan sejarah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Jilid III, situs adalah daerah temuan benda-benda purbakala.Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur.   Memang sampai sekarang belum ada bukti otentik mengenai apakah di situs ini dulunya merupakan pusat kerajaan Galuh atau bukan, tapi kalau kita kaitkan dengan kepercayaan atau agama yang berkembang saat itu yaitu agama Hindu, daerah ini memang cocok dijadikan pusat kerajaan Galuh karena berada dekat pertemuan dua sungai tersebut.Kosoh S, dalam bukunya yang berjudul Sejarah Daerah Jawa Barat mengemukakan: “… apabila ditinjau dari sudut pandang keagamaan dalam hal ini agama Hindu, Karang Kamulyan adalah sebuah tempat yang letaknya sangat baik, yaitu pertemuan dua sungai besar, yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy”. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa penduduk setempat dan juga Babad Galuh menganggap bahwa Karang Kamulyan itu juga merupakan pusat Kerajaan Galuh karena dilihat dari arti katanya sendiri, Karang Kamulyan artinya tempat yang mulia atau tempat yang dimuliakan. Para sejarawan dapat menyimpulkan bahwa agama yang dianut pada masa Kerajaan Galuh adalah agama Hindu karena berdasarkan Carita Parahyangan yang menyebutkan bahwa pemujaan yang umum dilakukan oleh Raja Galuh adalah sewabakti ring batara upati. Upati berasal dari bahasa Sansekerta utpati atau utpata, yaitu nama lain untuk Yama, dewa pencabut nyawa agama Hindu dari mazhab Siwa. (Nugroho Notosusanto ; 1993 : 358)
          Berbicara mengenai Karang Kamulyan, kita tidak bisa terlepas dari cerita Ciung Wanara, menurut masyarakat setempat kisah ini memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Masa kecil Ciung Wanara dibesarkan oleh kakeknya Aki Balangantrang. Setelah dewasa, Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan bernama Dewi Kancana Wangi, dan dikaruniai puteri yang bernama Purbasari yang menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung. Dalam usahanya merebut kerajaan Galuh dari tangan Sang Tamperan, Ciung Wanara dibantu oleh kakeknya yaitu Aki Balangantrang yang mahir dalam urusan peperangan dan kenegaraan bersama pasukan Geger Sunten. Perebutan kerajaan ini konon tidak dilakukan dengan peperangan, tapi melalui permainan sabung ayam yang menjadi kegemaran raja dan masyarakat pada saat itu. Ciung Wanara memenangkan permainan ini dengan mudah.
          Ciung Wanara memerintah selama 44 tahun (739-783 Masehi), dengan wilayah dari Banyumas sampai dengan Citarum, selanjutnya setalah Ciung Wanara melakukan manurajasuniya (mengakhiri hidup dengan bertapa), maka selanjutnya kerajaan Galuh dipimpin oleh Sang Manistri atau Lutung Kasarung, menantunya. Ciung Wanara disebut juga Sang Manarah, atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana.           Sekarang kita kembali ke Situs Karang Kamaulyan, AMDG dalam situsnya www.navigasi.net menyebutkan bahwa kawasan ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu.Batu-batu yang ada di lokasi ini memiliki nama dan kisah. Nama-nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh.

Pangcalikan
          Situs pertama yang akan kita lewati apabila kita masuk ke Cagar Budaya ini adalah Pelinggihan (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan / jenis yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik dan digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Sahyang Bedil
          Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6,20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat. Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitikum. Menurut kepercayaan masyarakat, Sanghyang Bedil kadangkala dapat dijadikan sebagai pertanda akan datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi. Di samping itu senjata memiliki arti perlambangan tersendiri yang telah dikenal oleh masyarakat sekitarnya. Senjata merupakan lambang dari hawa nafsu. Arti filsafatnya adalah bahwa hawa nafsu sering menyeret manusia ke dalam kecelakaan ataupun kemaksiatan.

Penyabungan Ayam
          Tempat ini terletak di sebelah selatan Sanghyang Bedil. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Lambang Peribadatan
          Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 x 0.6 m. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu. Masyarakat menyebutnya sebagai lambang peribadatan atau lambang keagamaan, karena dilihat dari bentuknya yang mirip dengan stupa.

Panyandaran
          Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.
          Masyarakat mempunyai mitos pada tempat ini. Sebagian masyarakat percaya bahwa kalau ada ibu-ibu yang belum dikaruniai anak dan ingin mempunyai anak, maka harus bersandar di tempat itu.

Cikahuripan
          Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Makam Dipati Panaekan
          Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga. Dipati Panaekan adalah putra kedua dari Cipta Permana (Prabu di Galuh) Raja Galuh Gara Tengah, ia wafat karena dibunuh oleh adik iparnya sendiri yang bernama Dipati Kertabumi (Singaperbangsa I) karena perselisihan paham dalam rangka penyerbuan Belanda ke Batavia dimana Panaekan condong ke pendapat Dipati Ukur sedangkan Singaperbangsa condong ke pendapat Rangga Gempol. Setelah dibunuh, jasadnya dihanyutkan ke Cimuntur dan diangkat lagi dipertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy lalu dikuburkan di Karang Kamulyan.
          Menurut juru kunci Karangkamulyan, Endan Sumarsana, didaerah karangkamulyan ini juga terdapat sebuah ”highway” Padjajaran atau disebut juga jalan raya yang menghubungkan Padjajaran dengan daerah-daerah disekitarnya. Jalan raya ini dimulai dari pusat kerajaan Padjajaran, kemudian ke Cileungsi, Cibarusa, Warunggede, Tanjung Pura, Karawang, Ciakao, Purwakarta, Sagalaherang, Sumedanglarang, Tomo, Sindangkasih, Rajagaluh, Talaga, Kawali dan berakhir di Karangkamulyan. Sekarang sisa dari jalan raya ini tidak dapat kita lihat karena sudah berubah menjadi pemukiman penduduk. Sekarang ini, masyarakat disekitar Karangkamulyan mempunyai tradisi yang unik setiap menjelang datangnya bulan Ramadhan. Mereka menamai tradisi ini dengan istilah ”Mager”. Tradisi ini dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kuncen atau juru kunci Karangkamulyan, setelah itu masyarakat saling bersilaturahmi dan makan bersama di lokasi tersebut. Masyarakat juga membawa bambu dan menggunakan bambu tersebut untuk membuat pagar bambu mengelilingi pancalikan. Kegiatan ini juga mempunyai arti tersendiri yaitu memagari atau membentengi umat muslim yang akan melaksanakan ibadah puasa dari gangguan setan yang akan terus menggangu umat manusia.

Sabtu, 14 Januari 2012

Obyek Wisata Ciamis



Oleh:Ricky Firmansyah
Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis Jurusan FKIP Sejarah.

          Terletak di Desa/Kecamatan Kawali, kurang lebih 21 km arah utara kota Ciamis. Di sini terdapat beberapa buah Batu Bertulis (Prasasti) yang merupakan cikap bakal bukti keberadaan kerajaan Sunda yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kencana. Salah satu dari batu bertulis tersebut bertuliskan "Mahayunan Ayunan Kadatuan" yang dijadikan sebagai motto juang kabupaten Ciamis.
Selain batu-batu prasasti terdapat pula peninggalan lainnya berupa:
1. Seperangkat batu disolit, yakni batu tempat pelantikan raja yang disebut Palangka.
2. Batu telapak kaki dan tangan dengan garis retak-retak menggambarkan kekuasaan dan penanggalan (kalender).
3. Tiga buah batu menhir:
a. Batu Panyandaan, b. Batu Panyandangan, c. Batu Pamuruyan (alat untuk bercermin
        Peninggalan Sejarah Objek Wisata Situs Kawali yang disebut juga Astana Gede dikenal sebagai komplek pusatnya peninggalan sejarah dan budaya masa lalu di Kabupaten Ciamis, yaitu pada masa kerajaan galuh sekitar abad ke- 14 masehi. 
          Astana gede Kawali di Ciamis merupakan tempat suci pada masa pemerintahan kerajaan sunda galuh di kawali. Pada jaman dahulu astana gede bernama kabuyutan Sanghiang Lingga Hiang menurut perkiraan penulis disebut astana gede ( astana= makam dan gede= besar ), setelah diatas punden berundak tempat pemujaan raja-raja kawali terdahulu yang masih menganut agama hindu, kemudian digunakan makam orang besar yaitu Adipati Singacalak sebagai raja kawali tahun 1643 - 1718 M keturunan Sultan Cirebon yang sudah menganut agama islam.
          Sebagai pusat pemerintahan raja - raja yang pernah bertahta ditempat ini adalah Prabu Ajiguna Linggawisesa, yang dikenal dengan sebutan Sanglumahing Kiding, Prabu Ragamulya atau Aki kolot, Prabu Linggabuwana yang gugur pada peristiwa bubat, Rahyang Niskala Wastukancana Yang meningalkan beberapa prasasti di Astana Gede ( situs kawali) dan Dewa Niskala anak dari Rahyang Wastukancana. Di Situs Astana Gede Kawali Ciamis ini terdapat 6 buah Prasasti, Batu panglinggih, 2 buah Menhir, Mata air Cikawali, dan makam para raja.
          Lokasi peninggalan sejarah dan purbakala ini tepatnya berada disebelah utara atau 27 km dari ibu kota kabupaten Ciamis letaknya berada dikaki gunung sawal disebelah selatan sungai cibulan, yang mengalir dari barat ke timur, disebelah timur berupa parit kecil dari sungai cimuntur yang mengalir dari sebelah utara ke selatan, sebelah utara sungai cikadongdong dan sebelah barat sungai cigarunggang. Kedaan lingkungan situs ini merupakan hutan lindung yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan, tanaman keras diantaranya termasuk familia meliceae, lacocarpceae, euphorbiaceae, sapidanceae dan lain-lain, tanaman palawija, rotan, salak, cengkih dll.
          Penelitian di astana gede mulai dilakukan pada jaman belanda, tetapi lebih menitik beratkan pada prasasti. tahun 1914 Oudhekumdige Diens mengadakan inventarisasi data arkeologi di astana gede ini. Tahun 1982 direktorat perlindungan pembinaan sejarah dan purbakala jakarta mengadakan studi kelayakan pemugaran situs. Tahun 1984 mengadakan pengujian arkeologi ( field check )di lapangan dalam rangka pembangunan cungkup. Tahun 1993 tim puslit arkenas dan balar bandung mengadakan pedataan arkeologis. 
          Hasilnya menunjujkan bahwa situs astana gede kawali berasal dari masa prasejarah, klasik dan islam, seperti yang telah disebutkan dimuka. sedangkan yang pertama menemukan adalah Thomas raffles pada tahun 1817 diteruskan oleh gubernur jendral Dumer van twiest tahun 1853, Priederik tahun 1855, Burumund tahun 1867, tuan Veth tahun 1896, Pleyte tahun 1911, De Haan tahun 1912 dan dipugar oleh puslit arkenas tahun 1984 - 1985 sedangkan pemagaran oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala dari banten pada tahun 1992-1993 dan yang penuh mengekakavasi dari balar dan suak..