SELAMAT DATANG DAN TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG RICKY FIRMANSYAH
http//www.rickypasey.blogspot.com Hidup Kita Adalah Cerminan Dari Apa Yang di PIKIRKAN, UCAPKAN,& LAKUKAN

Jumat, 16 Desember 2011

Pentingnya Shalat ...


“Shalat adalah Tiang Agama”

الصلاة عماد الدين, فمن اقامها فقد اقام الدين ومن هدمها فقد هدم الدين
        Sholat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.
        Dalam sebuah pelajaran mahfudzhat, saya menyampaikan sebuah mahfudzhat yang saya ingat saat saya masih kecil dulu. Dan setelah saya pelajari kalimat tersebut senada dengan hadist nabi, hal ini saya ketahui dari pernyataan para muallif (penyusun) dalam kitab-kitab. Kalimat itu adalah ash sholaatu ‘imaadu ad diin yang berarti sholat itu adalah tiang agama. Kelanjutan dari kalimat tersebut adalah faman aqoomahaa faqod aqoomaddin waman hadaamaha faqod hadaamaddin; maka barangsiapa yang mendirikannya berarti ia telah mendirikan agama itu (Islam) dan barang siapa meninggalkannya maka ia telah merobohkan agama (Islam) itu.
        Sebuah bangunan, setelah adanya pondasi yang merupakan asas sebuah bangunan berdiri, kebutuhan pokok setelah pondasi adalah tiang penyangga, penyokong, soko guru, yang akan menguatkan bangunan tersebut. Apabila sebuah bangunan memiliki 5 buah pilar penyangga, maka jika salah satu dari tiang tersebut roboh maka kekuatan atau kekokohan bangunan tersebut akan berkurang. Demikian seterusnya kekokohan suatu bangunan akan terus berkurang seiring dengan hilangnya pilar-pilar penyangganya satu persatu.
        Demikian pula Islam, yang ibaratnya adalah sebuah bangunan dengan syahadat sebagai pondasinya, dakwah dan jihad sebagai atap pelindungnya, dan sholat yang merupakan cerminan syariat Islam sebagai pilar penyangganya. Bila kaum muslimin rajin mendirikan sholat yang 5 waktu secara berjamaah di masjid maka berarti mereka telah mengokohkan pilar-pilar Islam. Sebaliknya, apabila kaum muslimin malas, ogah-ogahan mendirikan sholat fardhu yang 5 waktu secara berjamaah di masjid, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan ‘merobohkan’ pilar-pilarnya. Mungkin ini salah satu maksud Islam itu terhalang oleh orang Islam sendiri, Allohu a’lam. Bila kita pandang dalam lingkup yang lebih kecil, dalam diri seseorang bisa kita lihat parameter “kekuatan” Islamnya. Apakah ia rajin mendirikan sholat fardhu yang 5 waktu secara berjamaah di masjid, menambahi dengan mendirikan sholat sunnah, atau sebaliknya ia mengerjakan sholat fardhu 5 waktu namun tidak berjamaah dan hanya sholat sendirian di rumah, atau bahkan ia jarang melaksanakan sholat fardhu yang 5 waktu, atau bahkan yang paling parah ia tidak mengerjakannya sama sekali. Na’udzuu billahi min dzalik. Bahkan secara tegas dalam sebuah hadist Rasulullah disebutkan bahwa pembeda antara seorang mukmin dan kafir adalah seorang tersebut meninggalkan sholat atau tidak, yang bisa kita maknai bahwa agama Islam telah roboh dari diri seseorang tersebut bisa seorang tersebut meninggalkan sholat, terlepas dari perbedaan pendapat tentang kafir tidaknya orang tersebut. Oleh karena itu, ulama’ bersepakat bahwa hukuman seseorang yang meninggalkan sholat selama hidupnya adalah dipenggal. Sungguh amatlah berat hukuman ini tentunya sebanding dengan beratnya pelanggaran yang dilakukan seseorang tersebut.
        Penyebutan sholat sebagai tiang Islam adalah tepat, dalam Al Quran kita akan menemukan kata-kata yang digunakan adalah aqaama – yuqiimu (mendirikan), seperti dalam (cari ayatnya!). Pemilihan kata tersebut adalah untuk menegaskan bahwa sholat memang benar-benar sebagai pilar penyokong Islam yang dalam pelaksanaannya dihukumi wajib, 5 kali dalam sehari semalam, dan dilaksanakan secara bersama-sama (berjamaah) di tempat yang tertentu yaitu masjid. Kita masih ingat kisah isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan perintah sholat secara langsung dari Allah Azza wa Jalla yang pada awalnya dibebankan 50 kali dalam sehari semalam. Tentunya ada maksud dari Allah Yang Maha Mengetahui mengenai jumlah sholat yang awalnya 50 waktu menjadi hanya 5 waktu dalam sehari semalam dalam waktu yang tertentu. Firman Allah Azza wa Jalla:
        Satu lagi alasan sholat merupakan tiang agama Islam adalah bahwa sholat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar seperti yang difirmankan Alloh:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (٤٥)
        Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Al ‘Ankabuut: 45
        Maka barangsiapa yang benar dalam sholatnya akan membentengi dirinya dari berbuat keji dan kemungkaran.
        Maka sholat yang merupakan salah satu komponen utama dalam bangunan Islam, hendaknya kita kuatkan, kokohkan, agar bangunan Islam yang kita bernaung di dalamnya tidak mudah roboh dan dirobohkan. Mari kita tingkatkan kebaikan-kebaikan dalam sholat kita dengan melaksanakannya secara khusyu’, berjamaah di masjid bagi laki-laki, dan tepat waktu. Mudah-mudahan dengan ini kita menjadi bagian dari penolong-penolong agama Alloh Azza wa Jalla yang akan diberikan ganjaran sesuai dengan apa yang dijanjikan-Nya, aamiin.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (٧)

         Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Muhammad: 7
Allohu a’lam, dan semoga bermanfaat.

Selasa, 13 Desember 2011

Kedewasaan Mempengaruhi keberhasilan Pemimpin....


Kedewasaan Mempengaruhi Keberhasilan Seorang Pemimpin . . .

        Kedewasaan adalah saat seseorang tetap bisa bersikap tenang dan bijaksana dalam menyelesaikan sebuah situasi atau masalah seberat apapun. Banyak orang yang menganggap dirinya dewasa tetapi tidak memperhatikan perasaan orang lain. Karena sifat kekanak - kanakannya tidak dapat dikalahkan, mereka hanya dapat melihat suatu masalah dari satu sudut pandang saja dan orang itu tidak pernah merasakan apa yang orang lain rasakan. Kedewasaan seseorang dapat di ukur dari sudut pandang pemikiran, cara berfikir dan cara menyikapi suatu masalah bukan dari umur seseorang.
        Dalam sebuah lingkungan kerja, pasti ada seorang pemimpin yang tentunya akan menentukan arah kepada bawahannya untuk memajukan sebuah perusahaan. Di saat Anda berada pada sebuah posisi sebagai seorang pemimpin, kedewasaan merupakan sebuah titik penentu apakah Anda mampu memimpin bawahan Anda atau tidak. Tidak jarang sebagai seorang pemimpin kita menemukan bawahan yang sulit untuk diatur baik dalam hal kinerja maupun sikap. Dalam hal ini, kedewasaan seorang pemimpin sangat dibutuhkan.
        Seorang pemimpin yang baik akan selalu menempatkan dirinya pada posisi yang tepat dan bersikap bijaksana tanpa melibatkan keegoisannya. Keberhasilan pemimpin tergantung dari kemampuannya bersikap dewasa, karena saat pemimpin tidak dapat bersikap dewasa dan mementingkan kepentingannya sendiri, maka bersiaplah untuk tidak di dengarkan. Berikut ini beberapa hal yang membutuhkan kedewasaan sikap seorang pemimpin:
Saat menghadapi bawahan yang menunjukkan sikap sulit di atur, posisikanlah diri Anda sebagai pembimbing dan pahami karakter baawahan Anda.
          Ketika Mood Anda sedang tidak baik jangan pernah bawa itu menjadi masalah yang Anda limpahkan ke bawahan Anda, apalagi jika Anda menganggap apa yang mereka lakukan selalu salah. Dalam membuat keputusan, seorang pemimpin yang dewasa akan membuat keputusan dengan sangat bijaksana dengan tanpa mementingkan egonya.
     Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan kebijaksanaan dalam diri Anda.

“20 Ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya”

     Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.
1.    Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
2.   Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
3.   Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
4.   Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
8.    Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa    adanya  tindakan persiapan.
9.        Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
10.  Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
14.Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
15.    Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
16.  Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
18.      Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi  sesaat.
20.    Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan.

Selamat Membaca. . . .

Senin, 12 Desember 2011

Dewasa dalam berfikir dan Bertindak


Dewasa dalam berpikir dan bertindak
            Dalam beberapa hari ini saya merasa diri saya tidak berharga, hal ini disebabkan oleh pikiran-pikiran yang merasuki saya. Sebagai contoh, saya tidak begitu enjoy dengan keadaan saya saat ini, jika saya membandingkan diri saya dengan orang lain, ada orang yang kelihatannya sombong dengan wajah merendahkan orang, dan saya merasa saya itu tidak bisa menempatkan diri dalam kelompok. Semakin saya pikir hal ini semakin sedih rasanya hati saya dan emosi mulai membara dalam hati ini. Setelah saya pikir-pikir lebih dalam lagi tidak ada gunanya saya memikirkan masalah itu, tapi lebih baik saya mencari apa yang menjadi penyebab dari akibat yang saya rasakan ini.
        Dalam tulisan yang terdahulu saya sudah menuliskan bahwa bagaimana cara kita memandang dunia begitulah kita jadinya. Setelah saya analisa penyebab dari semua ini adalah bahwa saya tidak dewasa dalam berpikir dan bertindak. Sekarang kita definisikan dulu dewasa itu apa ? dewasa adalah melakukan sesuatu dengan cara berpikir sebelum bertindak dan mampu menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya. Contoh dari berpikir sebelum bertindak yang saya lakukan adalah :tidak punya perencanaan sebelum bekerja, banyak chating dan baca berita, kurang koordinasi dengan rekan kerja. Untuk berubah maka saya harus merubah ketidak dewasaan saya dalam ketiga hal diatas kea rah yang lebih baik.
        Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana saya merubah ketiga hal tersebut ? saya mulai belajar dari alkitab, dalam kitab Amsal 14:23 dikatakan “Dalam jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja”. Selama saya bekerja jarang saya bekerja dalam jerih payah, makanya saya tidak untung, dan saya sering chating hanya membahas hal-hal yang tidak perlu makanya saya banyak kekurangan, misalnya kurang persiapan masa depan, seiring dengan waktu dan umur yang sudah makin tua saya makin sadar banyak yang kurang dalam diri saya, padahal seharusnya saya sudah bias ini dan itu.
Formulanya sudah dapat dalam Amsal 14:23, yang menjadi pertanyaan bagaimana caranya supaya saya bekerja dalam jerih payah ?. Jawabannya adalah :

      JERIH PAYAH —–>KINERJA OPERASIONAL ——>KEUNTUNGAN
        Dengan formula ini dapat disimpulkan dengan jerih payah maka kita harus menentukan kinerja operasional dari jerih payah untuk mencapai target keuntungan. Kinerja operasional yang dimaksud disini adalah indikator-indikator yang membuat saya jerih payah untuk mencapai target, indikator tersebut adalah waktu, kecepatan, ketepatan. Dari indikator ini maka saya akan membuat rencana kerja, dimana setiap rencana yang saya buat akan saya nilai berdasarkan indikator tersebut. Setelah setiap rencana kerja saya laksanakan maka akan saya nilai apakah target keuntungan tercapai atau tidak.

Selamat Membaca, Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semuanya . .
     Pesan saya : Percayalah dengan kemampuan sendiri,  sebab kita ini manusia yang di beri akal dan pikiran yang dapat menjadi senjata mengagumkan, OPTIMIS selalu .. 

Manusia dalam Pandangan Islam


Manusia dalam Pandangan Islam
     Sesunguhnya manusia itu diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sempurna dan bagus, dan manusia diciptakan sebagai kholifah Allah di Bumi, dan telah dijadikan Bumi seisinya untuk tunduk kepada manusia.
Allah Befirman : (
لقد خلقنا الإنسان فى اًحسن تقويم ) "Sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna" (At Tiin :5)
        Manusia diciptakan Allah dari tanah (thin), Allah berfirman,
(
اذ قال ربك للملائكة إنى خالق بشرا من طين ) "( Shod : 71)
Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa benar adanya jika manusia itu sebenarnya dari tanah. Tanpa adanya tanah tidak mungkin manusia bisa tumbuh. semua makanan yang ada, pada awalnya adalah dari tanah.
        Kewajiban manusia sebagai kholifah Allah di bumi adalah tidak lain hanya untuk menyembah Allah semata. Menurut Islam manusia itu terdiri dari dua bagian yang membuatnya menjadi manusia sempurna, yaitu terdiri dari Jasmani dan rohani, disamping itu manusia juga telah dikaruniai fitrah. Kita hidup di dunia ini bisa menyaksikan sendiri ada persamaan-persamaan yang dimiliki manusia. Seperti Cinta keadilan, kasih sayang, dan lainnya, itulah menurut kami yang disebut fitrah.

A. Jasmani
        Sungguh beruntunglah kita yang dikaruniai jasmani yang sempurna. kaki, tangan, lidah, mata, hidung, telinga, perut dan faraj adalah pemberian Allah yang harus kita syukuri dengan mempergunakannya untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan jasmani kita bisa merasakan kenikmatan hidup di dunia ini.

B. Rohani
        Yaitu unsur manusia yang tidak kasatmata, yang menjadikan jasmani menjadi manusia yang hidup. Dalam buku yag ditulis Barmawie Umary, rohani terdiri dari:
        1. Akal = dengannya manusia yang lemah bisa mengendalikan kehidupannya di dunia. Berkat akal pula kehidupan manusia bisa jadi lebih mudah. Apa yang ada dihadapan anda sekarang ini adalah bukti kemampuan yang dikaruniakan Allah hanya kepada manusia, yaitu akal. Dengan Akal pulalah perbedaan antara hewan dan manusia sangat mencolok.
       
        2. Nafsu = adalah suatu bagian rohani yang dimiliki manusia untuk berkehendak atau berkeinginan. Tanpa nafsu barangkali takkan ada kemajuan dalam hidup manusia. Akan tetapi seringkali nafsu mengalahkan hati dan akal sehingga yang terjadi adalah kerusakan. Masih dari buku karya Barmawie, tersebut bahwa nafsu dikategorikan menjadi:
  • Nafsul Ammarah : Yaitu jiwa yang belum mampu membedakan yang baik dan buruk, lebih mendorong kepada tindakan yang tidak patut.
  • Nafsul Lawwamah :Yaitu jiwa yang telah memiliki rasa insaf dan menyesal setelah melakukan suatu pelanggaran, malu perbuatan buruknya diketahui orang lain an tetapi belum mampu untuk menghentikan tindakanya
  • Nafsul Musawwalah : Jiwa yang telah bisa membedakan yang baik dan buruk, telah bisa menggunakan akalnya untuk menimbang mana yang baik dan mana yang buruk.
  • Nafsul Muthmainnah : Yaitu jiwa yang telah mendapat tuntunan dan terpelihara sehingga mendatangkan ketenangan jiwa. Dengan jiwa ini akan melahirkan sikap dan perbuatan yang baik dan membentengi kekejian
  • Nafsu Mulhamah : Adalah jiwa yang memperoleh ilham dari Allah SWt dikarunia ilmu dan dihiasi Akhlak Mahmudah.
  • Nafsu Raadliyah : Yaitu jiwa yang ridho kepada Allah, selalu bersyukur kepadaNya.
  • Nafsu Mardliyah : Yaitu jiwa yang diridhoi Allah
  • Nafsu Kaamilah : Yaitu jiwa yang telah sempurna

        3. Qolbu(hati) = Dari hatilah segala kepribadian manusia muncul. Apabila hati selalu dibina secara baik sesuai Syari'at maka manusia akan berakhak mulia. Akan tetapi seringkali kekuasaan hati tertutupi oleh kekuasaan nafsu, apalagi dengan ditambah bisikan-bisikan syetan, sehingga yang muncul bukanlah cahaya Ilahi akan tetapi bisikan syetan. Oleh karenanya hati harus selalu disirami tuntunan Islam dengan selalu berzdikir kepada Allah. Dalam menjaga hatinya seorang muslim harus selalu wasapada terhadap terjangkitnya penyakit hati. Penyakit hat sungguh berbahaya bagi kehidupannya.
       
        4. Roh = Seorang mukmin percaya bahwa manusia hidup karena roh yang ada dalam jasadnya. Akan tetapi bagaimana bentuk atau wujudnya itu bukanlah urusan manusia, karena Allah telah berfirman : Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh; katakanlah : Roh itu urusan Rabb ku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit." (Al Isra ;85)

( وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ) " Dan tidaklah Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembah(Ku). (Adzariyat : 56)