Pertempuran Surabaya, 10
November 1945
“Tidak ada pertempuran
yang dilancarkan Republik yang dapat disebandingkan dengan pertempuran Surabaya
itu, baik dalam keberanian maupun kegigihannya” (David Welch dalam Birth of
Indonesia, hal. 67)
23 September 1945
Kapten
Huijer dari Angkatan Laut Belanda adalah wakil sekutu pertama yang menjejakan
kakinya di Surabaya untuk melakukan pemeriksaan pendahuluan dan ini
mengindikasikan bahwa Belanda-lah yang akan mempelopori pengambil-alihan
Surabaya dari Jepang setelah ‘kesalahan-kesalahan’ pasukan Inggris ketika
mengambil alih Semarang.
28 September 1945
Huijer
mendatangi markas Laksamana Madya Yaichiro Shibata, pimpinan tertinggi pasukan
Jepang di Surabaya, agar melimpahkan seluruh kekuasaannya termasuk senjata yang
berada di bawah komando dirinya kepada Huijer. Namun demikian sebagaimana sikap
kaigun yang lain (seperti Laksamana Maeda di Jakarta), Shibata sangat
simpati dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia oleh karena itu ia menyerahkan
senjata kepada Komite Nasional Indonesia Surabaya (KNI-Surabaya) yang dipimpin
oleh Soedirman dan Doel Arnowo. KNI-Surabaya sendiri berjanji akan
menyerahkannya kepada sekutu pada waktunya.
Tetapi
KNI-Surabaya tidak memiliki kemampuan untuk mengelola persenjataan bekas
tentara angkatan laut Jepang sehingga mereka menyerahkannya ke Badan Keamanan
Rakyat (BKR), kelompok-kelompok pemuda, pasukan-pasukan polisi dan bahkan
milisi/laskar yang masih belum terorganisir dengan baik.
1 Oktober 1945
Terjadi
perkelahian diantara pemuda-pemuda Indonesia dan Belanda yang dengan cepat
berubah menjadi aksi massa di seluruh kota. Mereka menyerang lapangan udara
Morokrembangan dan kamp interniran yang terletak di daerah pemukiman Darmo.
Sementara itu markas Kempetai dan Angkatan Darat Jepang dikepung oleh sejumlah
laskar yang bersenjatakan apa adanya, dari bambu runcing hingga ke senapan
mesin.
4 Oktober 1945
Surabaya
telah menjadi kamp bersenjata yang seluruhnya dalam tangan Indonesia. Semua
penjara dibuka dan penghuni-penghuninya, apakah mereka ditahan atas tuduhan
politik atau pidana telah bergabung ke dalam massa yang berkerumun di dalam
kota itu. Pada hari itu juga Shibata memberitahukan kepada bawahannya bahwa
Huijer-lah yang bertanggung jawab atas keamanan kota tersebut.
8 Oktober 1945
Gubernur,
TKR dan polisi berangsur-angsur kehilangan kekuasaannya, yang kemudian
seluruhnya terseret menjadi ‘anarki’. Rasa permusuhan terhadap Jepang dan
Belanda yang begitu mendalam di kalangan pemuda, menyebabkan mereka
melaksanakan pengadilan rakyat yang membabi-buta yaitu dengan menghukum mati
para tawanan (Jepang, khususnya) dengan melakukan hukuman mati dengan cara
pemenggalan leher. Kapten Huijer pun menjadi tahanan TKR demi keselamatan
dirinya.
12 Oktober 1945
Tiba
seorang pemuda dari Jakarta yang bernama Soetomo atau yang kemudian dikenal
dengan nama Bung Tomo, seorang wartawan yang bekerja di kantor berita Domei.
Ia membawa gagasan mendirikan pemancar radio, yang kemudian diberi nama “Radio
Pemberontakan” sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas massa dan
memperbesar semangat perjuangan pemuda.
13 Oktober 1945
Bung
Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (BPRI), sebagai suatu
organisasi yang terpisah dari PRI yang dipimpin oleh Soemarsono. Dan
siaran-siaran radio yang dilakukan oleh Bung Tomo tidak hanya berhasil
mempengaruhi masyarakat santri yang memang menjadi mayoritas di Jawa Timur dan
Madura, namun juga pemimpin-pemimpin “merah” terutama yang berada di dalam PRI.
22 Oktober 1945
Nahdhatul
Ulama dari seluruh Jawa dan Madura melangsungkan rapat raksasa di Surabaya yang
mana mereka menuntut, “Memohon dengan sangat kepada pemerintah Republik
Indonesia soepaja menentukan soeatoe sikap dan tindakan jang njata terhadap
tiap2 oesaha jang membahajakan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap
pihak Belanda dan kaki tangannja” (Antara, 25 Oktober 1945)
25 Oktober 1945
Inggris
mendarat di Tanjung Perak Surabya dengan dipimpin oleh Brigadir Jenderal
Mallaby yang juga merupakan Panglima Brigade ke-49 dengan tugas utama
mengungsikan pasukan Jepang dan para interniran. Brigade ini berjumlah kurang
lebih enam ribu pasukan dengan membawa juga pasukan elit Gurkha. Mallaby
sendiri dan wakilnya, Kolonel Pugh, pertama-tama disambut oleh Mustopo, kepala
TKR-Surabaya, dan Atmadji, bekas aktivis Gerindo, yang mewakili TKR Angkatan
Laut. Setelah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Mustopo, Mallaby
menegaskan bahwa sekutu tidak akan menyelundupkan di tengah-tengah mereka
pasukan Belanda dan NICA (Netherland Indies Civil Administrastion).
26 Oktober 1945
Tanpa
data intelejen yang komprehensif tentang kondisi Surabaya dan masyarakatnya
yang sedang bergolak, Mallaby mengirim 1 peleton pasukan yang dipimpin oleh
Kapten Shaw untuk menyelamatkan Kapten Huijer. Masyarakat Surabaya mulai
kehilangan kepercayaan terhadap Mallaby dan pasukannya. Kondisi diperparah
dengan selebaran yang disebarkan melalui udara ke seluruh kota di Surabaya atas
perintah Mayor Jenderal Hawthorn, panglima sekutu di Jakarta. Selebaran itu
intinya berisi bahwa pihak Indonesia harus menyerahkan seluruh senjata mereka
dalam waktu 48 jam. Tuntutan seperti ini akhirnya membatalkan perjanjian yang
telah dilakukan oleh Mallaby dan Moestopo.
27 Oktober 1945
Sekutu
mulai melakukan agresinya. Pada dasarnya komandan-komandan sekutu masih
memandang rendah terhadap kemampuan bangsa Indonesia mempertahankan
kemerdekaannya. Apalagi mereka begitu membanggakan brigade 49-nya dengan
mendapatkan julukan “The Fighting Cock” selama bertempur melawan Jepang di
hutan-hutan Burma.
28 Oktober 1945
Pasukan
sekutu mengambil alih lapangan udara Morokrembangan dan beberapa gedung penting
seperti kantor jawatan kereta api, pusat telephon dan telegraf, rumah sakit
Darmo dna lainnya. Pertempuran besar pun tak terelakan antara 6000 pasukan
Inggris dengan 120.000 tentara dan pemuda Indonesia. Akibat kalah jumlah,
Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran.
Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di
Surabaya menghentikan pertempuran. Begitu terjepitnya hingga dalam buku
Donnison “The Fighting Cock” ditulis “Narrowly escape complete destraction”
alias hampir musnah seluruhnya.
29 Oktober 1945
Soekarno,
Hatta dan Amir Sjarifoedddin datang ke Surabaya untuk menghentikan pertempuran.
Kemudian setelah membujuk agar tentara dan pemuda menghentikan pertempuran,
mereka bertiga ditambah tokoh-tokoh Surabaya seperti Soedirman, Soengkono,
Soerjo dan Bung Tomo melakukan perundingan dengan Mallaby dan Hawthorn. Hasil
perundingannya adalah tentara sekutu sepakat untuk mundur dari Tanjung Perak
dan Darmo, sementara Indonesia setuju mengizinkan interniran lewat secara bebas
diantara kedua sektor itu. Setelah melakukan perundingan, Soekarno, Hatta dan
Amir Sjarifoeddin kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang dan
menganggap kekerasan sudah berakhir.
30 Oktober 1945
Sewaktu
melakukan patroli, mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat
oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena
terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat
mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.
Kematian
Jenderal Inggris itu menjadi titik tolak untuk peristiwa-peristiwa yang lebih
dasyat berikutnya. Letnan Jenderal Christinson, komandan Pasukan Sekutu di
Hindia Belanda (AFNEI) memberikan peringatan keras terhadap Indonesia. Ia
kemudian mengirimkan seluruh Divisi Infanteri ke-5 lengkap dengan peralatan
tank ke Surabaya dibawah pimpinan Mayor Jenderal Mansergh. Kekuatannya
berjumlah sekitar 15.000 pasukan.
1 November 1945
Kapal
perang HMS Sussex muncul di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Selama minggu
berikutnya sekitar 8000 interniran berhasil dipindahkan ke kapal perang.
9 November 1945
Dengan
semua para interniran (sandera) berhasil dibawa pulang, Inggris mulai melakukan
aksi balas dendamnya atas kematian Mallaby. Seperti yang diceritakan Idrus, “Sedjak
beberapa hari sekoetoe mendaratkan serdadoe2 lebih banyak dan tank-tank
raksasa. Tank-tank itu toeroen dari kapal seperti malaikal maut toeroen dari
langit; diam2 dan dirahasiakan oleh orang jang menoeroenkannja” (Soerabaja,
hal. 137) Mansergh mengeluarkan ultimatum agar seluruh senjata di Surabaya
diserahkan sebelum jam 06.00 keesokan harinya dan supaya orang-orang Indonesia
yang bertanggung jawab atas tewasnya Mallaby diserahkan. Ultimatum itu
disebarkan melalui udara ke seluruh kota.
Selain
itu Mansergh secara eksplisit memperingatkan bahwa semua anak-anak dan wanita
harus sudah meninggalkan kota sebelum pukul 19.00 malam itu dan memberikan
ancaman hukuman mati bagi setiap orang Indonesia yang membawa senjata sesudah
pukul 06.00 pada tanggal 10 November 1945. Mendengar ultimatum itu para
pemimpin Surabaya menelpon Jakarta untuk memperoleh keputusan tingkat nasional
mengenai jawaban apa yang harus diberikan terhadap ultimatum Mansergh. Akan
tetapi, baik Soekarno maupun Soebardjo (Menteri Luar Negeri) menyerahkan
keputusan itu terhadap masyarakat Surabaya. Jam 6 sore, elemen TKR dan pemuda
menandatangani “Soempah Kebulatan Tekad” yang isinya,
Bismillah Hirochmanirrachim
SOEMPAH KEBOELATAN TEKAD
Tetap Merdeka !
Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia dilaporkan pada
tanggal 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan soenggoeh-soenggoeh,
penoeh tanggoeng djawab, ikhlas berkorban dengan tekad MERDEKA atau MATI !!!
Sekali merdeka tetap merdeka !
Soerabaja, 9 November 1945
Ttd
(1) TKR Kota
(2) PRI
(3) BPRI
(4) TKR Sidoardjo
(5) BBI
(6) TKR Laut
(7) TKR Peladjar
(8) P.I.
(9) BBM (Barisan Berani Mati)
(10) TKR Modjokerto
(11) TKR Djombang
(12) dll
Dan
setelah melakukan diskusi yang cukup panjang dengan seluruh elemen yang ada di
Surabaya, pada jam 23.00 malam Gubernur Soerjo mengumumkan melalui radio
keputusannya bahwa Surabaya akan melawan sampai titik darah penghabisan.
10 November 1945
Pada
pukul 06.00 Inggris memulai serangannya, sementara itu Bung Tomo memanggil
seluruh rakyat melawan penyerbu-penyerbu itu. Pemboman besar-besaran dari laut
dan udara membinasakan sebagian besar Surabaya. Menjelang senja, Inggris telah
menguasai sepertiga kota. Surat kabar Times di London mengabarkan bahwa
kekuatan Inggris terdiri dari 25 ponders, 37 howitser, HMS Sussex dibantu 4
kapal perang destroyer, 12 kapal terbang jenis Mosquito, 15.000 personel dari
divisi 5 dan 6000 personel dari brigade 49 The Fighting Cock.David Welch
menggambarkan pertempuran tersebut dalam bukunya, Birth of Indonesia
(hal. 66), “Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki
satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda,
kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan-selokan. Gelas-gelas
berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di
jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang
kosong.
Perlawanan
Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik,
dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang
tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih
efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang” Pertempuran
berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945
seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Para pejuang Indonesia yang masih
hidup mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan
kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat
hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Menurut Ricklefs (2008) sedikitnya ada 6000
rakyat Indonesia yang gugur. Meski pihak republik kehilangan banyak tentara dan
pemuda, tetapi perlawanan mereka yang bersifat pengorbanan tersebut telah
menciptakan lambang dan pekik persatuan demi revolusi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar